www.pharosindonesia.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color
Home NEWS BERITA KESEHATAN Mengenal Dermatofitosis

Mengenal Dermatofitosis

Definisi

Dermatofitosis (disebut juga tinea, dermatomikosis, ringworm) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofit, yaitu jamur-jamur yang tergolong dalam genera Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Jamur-jamur ini memiliki sifat sebagai pencerna zat tanduk (keratin) pada kulit, baik pada hewan maupun manusia.

 

Epidemiologi

Penyakit ini sering ditemukan di daerah yang beriklim tropis (hangat dan lembab). Penularan terjadi dari penderita ke orang lain melalui kontak langsung (rambut atau kulit). ataupun kontak melalui medium yang dipakai bersama seperti sisir, kolam renang, bak mandi, dan sebagainya.

 

 


 

 

Infeksi pada Manusia

Waktu yang dibutuhkan sejak seseorang terpapar jamur sampai timbul gejala infeksi, atau masa inkubasi, biasanya berkisar antara 1-2 minggu. Jamur hanya tumbuh di daerah kulit yang memiliki selaput tanduk atau keratin; antara lain kulit kepala (tinea capitis), lipat paha (tinea cruris), badan dan anggota gerak (tinea corporis). tangan (tinea manuum), kaki (tinea pedis), dan kuku (tinea unguium). Dermatofit tidak menyerang daerah bermukosa seperti mata, rongga mulut, dan organ kemaluan bagian dalam. Dermatofitosis pada manusia umumnya tidak fatal. Namun apabila sudah terjadi infeksi bersama dengan bakteri (sering pada penderita diabetes), kerusakan kulit dapat terjadi cukup luas dan serius.

 

Gejala dan Tanda

Gejala utama yang paling sering dikeluhkan adalah gatal. Lesi kulit yang ditemukan berupa daerah dengan peradangan (kemerahan, kadang bersisik, atau ada lentingan) yang umumnya lebih berat di bagian tepi daripada tengahnya. Jika yang terserang adalah kulit kepala, dapat terjadi kerontokan rambut. Jika yang terserang adalah kaki, gejala utama adalah adanya sisik dan maserasi (basah) di sela-sela jari kaki. Sedangkan jika yang kuku terserang, kuku akan mengalami penebalan dan perubahan warna, lebih rapuh, bergelombang, dan pertumbuhannya terganggu.

 

Pemeriksaan

Dokter mendiagnosis seseorang menderita infeksi jamur dermatofit dengan menggunakan sinar Wood atau pemeriksaan KOH. Pemeriksaan sinar Wood dilakukan di ruang gelap untuk melihat warna fluoresensi dermatofit, yang bermanfaat untuk membantu memperkirakan jenis jamur yang menyerang. Sedangkan pemeriksaan KOH membutuhkan kerokan dari kulit / kuku / rambut yang terinfeksi, kemudian pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop.

 

Tindak Lanjut

Dermatofitosis biasanya diterapi dengan antijamur sistemik (ketokonazole), kecuali apabila infeksi ditemukan hanya meliputi daerah yang tidak luas (contohnya tinea manuum). Pemberian obat jamur topikal/oles (clotrimazol, miconazole) dan sampo khusus antijamur dapat membantu mengurangi atau membantu menghambat pertumbuhan jamur dan sporanya. Pemberian obat dapat berlangsung selama 4 minggu.

Di samping pemberian obat, tindakan suportif juga diperlukan; antara lain menjaga kulit tetap bersih dan kering (hindari kelembaban berlebihan), dan cuci pakaian dan alas tidur setiap hari selama sakit. Jika ada kecurigaan bahwa dermatofitosis didapat dari hewan, hewan penular juga sebaiknya diterapi.

 

Pencegahan Infeksi

Berbagai upaya mencegah dermatofitosis yaitu:

  • Menjaga kulit, termasuk telapak kaki dan tangan, tetap bersih dan kering.
  • Keramas dengan sampo secara teratur, terutama sehabis pulang dari salon.
  • Jangan tukar pakaian dengan orang lain, apabila pakaian tersebut belum dicuci. Hindari pula pemakaian sikat gigi, topi, dan alat cukur bersama dengan orang lain tanpa pencucian terlebih dahulu.
  • Gunakan alas kaki di tempat-tempat umum yang lembab seperti kolam renang atau gym.

 

Jamur-jamur dermatofit dapat dimusnahkan dengan disinfektan, antara lain benzalkonium klorida dan detergen. Klorheksidin tidak efektif untuk dekontaminasi jamur-jamur ini.

 

 

Referensi

Institute for International Cooperation in Animal Biologics / The Center for Food Security and Public Health Iowa State University. Dermatophytosis. Available from URL http://www.cfsph.iastate.edu (last updated in 2005; accessed August 23, 2011)

Lewis RA. Ringworm. Available from URL http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001439.htm (last updated January 05 2007; accessed August 23 2011)

 

hn/mad/pi/011/q3-11

 

ADD_YOUR_COMMENT

YOURALIAS:
YOUREMAIL:
Title:
FULLTEXT: