www.pharosindonesia.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color
Home NEWS BERITA KESEHATAN Osteoporosis: Mengenal Fakta dan Mitosnya

Osteoporosis: Mengenal Fakta dan Mitosnya

Belakangan ini banyak penduduk usia dewasa pertengahan dan lansia, khususnya wanita, yang menaruh perhatian pada penyakit osteoporosis. Penyakit yang menyerang sistem metabolisme tulang ini memang terus saja mengalami peningkatan jumlah kasus di seluruh dunia. Osteoporosis juga tidak bergejala, namun kondisi ini bisa sampai menyebabkan patah tulang; yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan disabilitas berat. Meskipun demikian pentingnya, terapi osteoporosis seringkali masih belum maksimal.

 

 

1. Apakah osteoporosis itu? Apakah sama dengan istilah tulang keropos?

 

National Osteoporosis Foundation di Amerika Serikat mengemukakan definisi osteoporosis; yaitu suatu penyakit yang ditandai dengan hilangnya massa tulang dan gangguan struktur jaringan tulang, sehingga tulang menjadi keropos dan kerentanan terhadap fraktur (patah tulang) meningkat. Secara singkat dapat dikatakan bahwa osteoporosis kira-kira sama dengan kondisi tulang keropos.

ilustrasi osteoporosis

 

2. Benarkah hanya wanita yang mengalami osteoporosis? Apakah pria juga dapat mengalaminya?

 

Tidak. Pria juga dapat mengalami osteoporosis. Salah satu kepustakaan pada tahun 2007 pernah mengemukakan bahwa 1 dari 4 pria berumur 60 tahun dapat mengalami fraktur akibat osteoporosis. Osteoporosis pria sering diabaikan dan tidak terdeteksi padahal dampak buruknya sama saja dengan osteoporosis pada wanita; yaitu hilangnya kemandirian dan ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

 

 

3. Seberapa seringkah osteoporosis ditemukan pada masyarakat?

 

Di seluruh dunia terdapat sekitar 200 juta orang yang mengalami osteoporosis. Satu dari tiga wanita berumur di atas 50 tahun dan satu dari lima pria berumur di atas 50 tahun berisiko menderita osteoporosis. Diperkirakan angka ini akan terus meningkat seiring pertambahan umur harapan hidup dan membaiknya kualitas hidup.

 

 

4. Adakah faktor-faktor yang meningkatkan kecenderungan seseorang mengalami osteoporosis?

 

Ada. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko osteoporosis antara lain:

  1. Umur di atas 65 tahun
  2. Pernah didiagnosis fraktur kompresi pada punggung
  3. Mengalami gangguan pencernaan (malabsorbsi)
  4. Memiliki kecenderungan jatuh yang tinggi
  5. Riwayat osteoporosis pada keluarga
  6. Mendapat terapi kortikosteroid sistemik selama minimal 3 bulan
  7. Menopause sebelum umur 45 tahun
  8. Pemeriksaan radiologi menunjukkan osteopenia (densitas tulang mengalami penurunan)

 

 

5. Bagaimanakah dokter mendiagnosis osteoporosis?

 

Osteoporosis hanya dapat didiagnosis secara pasti dengan mengukur densitas tulang. Alat pengukur densitas tulang yang telah dianggap baku adalah DEXA (dual-energy X-ray absorptiometry scanning); yang cukup tepat, akurat, dan relatif terjangkau. Densitas tulang yang akurat untuk diagnosis adalah apabila pengukuran dilakukan terhadap tulang sentral seperti tulang punggung atau tulang panggul; bukan pada tulang-tulang ujung seperti tumit atau tangan.

WHO telah menetapkan definisi kasus osteoporosis berdasarkan hasil pemeriksaan densitas mineral tulang (BMD, bone mineral density) untuk individu berumur 50 tahun ke atas. Tulang disebut normal apabila BMD berada dalam 1 simpang baku dibandingkan rata-rata densitas tulang pada wanita dewasa muda (T-score -1 ke atas). Osteopenia adalah jika T-score berada pada -1 sampai -2.5; sedangkan osteoporosis adalah jika T-score kurang dari -2.5.

 

 

T-score normal dan osteoporosis

 

 

6. Apa saja obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengatasi osteoporosis?

 

Bisfosfonat adalah pengobatan lini pertama untuk mencegah osteoporosis pada wanita lanjut usia sekaligus sebagai terapi utama untuk wanita dengan osteoporosis; terutama pada wanita yang sudah pernah mengalami fraktur. Berbagai jenis bisfosfonat sudah beredar di pasaran, antara lain alendronate dan risedronate.

Calcitonin yang dihirup maupun yang disuntikkan adalah terapi pilihan utama jika penderita osteoporosis mengalami nyeri akibat fraktur tulang punggung; sekaligus sebagai terapi osteoporosis lini kedua setelah bisfosfonat. Demikian pula terapi ganti hormon. Terapi ganti hormon, atau yang dikenal pula dengan nama hormone replacement therapy (HRT); telah diketahui dapat memperbaiki densitas tulang. Namun risiko HRT perlu dipertimbangkan karena sebagian penelitian menunjukkan kecenderungan stroke, kanker payudara, dan penyakit kardiovaskular yang sedikit meningkat dengan HRT. Sampai sejauh ini HRT masih diberikan dengan catatan harus dalam dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin.

Beberapa terapi lain untuk osteoporosis yaitu raloxifene (pengatur reseptor estrogen), teriparatide (perangsang pembentukan tulang), dan hormon paratiroid.

 

 

7. Benarkah asupan kalsium yang cukup saja sudah efektif mencegah osteoporosis?

 

Teoritis, tidak cukup. Suplementasi kalsium hanya sedikit memperbaiki densitas tulang. Dari penelitian ditemukan bahwa suplementasi kalsium hanya bermanfaat mencegah fraktur tulang punggung, tidak pada tulang-tulang yang lain termasuk panggul.

Lalu apakah orang-orang berusia lanjut tidak perlu suplemen kalsium? Jawabannya juga tidak. Masih perlu; karena kadar kalsium yang terlalu rendah pun berdampak tidak baik karena akan semakin mempercepat hilangnya massa tulang.

Oleh karena itu, konsumsi kalsium harus dibarengi dengan vitamin D, agar kalsium yang dikonsumsi dapat diendapkan ke tulang dengan lebih baik.

 

 

8. Kalau begitu, berapakah asupan kalsium dan vitamin D yang cukup untuk lanjut usia?

 

Untuk populasi berusia di atas 50 tahun, kebutuhan harian kalsium adalah 1500 mg, dan kebutuhan harian vitamin D adalah 800 IU.

 

 

Referensi

Ducharme N. Male Osteoporosis. Clin Geriatr Med 2010; 26: 301-309.

Jacobs-Kosmin D. Osteoporosis. Available from http://emedicine.medscape.com/article/330598-overview.htm (last updated July 27, 2011; accessed August 26, 2011)

Rizer MK. Osteoporosis. Prim Care Clin Office Pract 2006; 33: 943-51.

 

 

hn/mad/pi/013/q3-11

 

 

ADD_YOUR_COMMENT

YOURALIAS:
YOUREMAIL:
Title:
FULLTEXT: