www.pharosindonesia.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color
Home NEWS BERITA KESEHATAN Mengenal Neuralgia Trigeminal: Nyeri Hebat Sesisi Wajah

Mengenal Neuralgia Trigeminal: Nyeri Hebat Sesisi Wajah

Definisi

Neuralgia trigeminal terdiri atas dua kata. Neuralgia, berasal dari bahasa Yunani; yaitu awalan "neuro-" yang berarti terkait dengan saraf, dan akhiran "-algia" yang berarti nyeri. Dengan demikian neuralgia berarti nyeri yang dirasakan di sepanjang saraf tertentu. Sedangkan trigeminal adalah salah satu dari dua belas saraf kranial memiliki tiga cabang utama. Cabang pertama mengatur daerah dahi-mata-hidung, cabang kedua mengatur daerah pipi, dan cabang ketiga mengatur daerah mulut dan rahang.


Dengan demikian neuralgia trigeminal didefinisikan sebagai nyeri yang dirasakan pada minimal salah satu dari ketiga cabang saraf trigeminal. Neuralgia trigeminal ditandai dengan nyeri tajam yang timbul mendadak dan singkat, sering hanya timbul sesisi, namun dirasakan sangat berat dan dapat berulang; pada daerah yang diatur oleh saraf trigeminal.

 

Distribusi persarafan trigeminal

 

Penyebab

Ada beberapa hipotesis dari para ahli terhadap bagaimana patofisiologi neuralgia trigeminal ini. Diduga bahwa neuralgia trigeminal disebabkan oleh demielinisasi saraf yang mengakibatkan hantaran saraf cenderung meloncat ke serabut-serabut saraf di dekatnya. Hal ini mengakibatkan sentuhan yang ringan saja dapat dirasakan sebagai nyeri, akibat hantaran yang berlebihan itu.

Serangan nyerinya tidak dapat diperkirakan; karena nyeri dapat dicetuskan oleh aktivitas sehari-hari yang biasanya tidak menimbulkan nyeri (seperti menyisir rambut, mengunyah makanan, menggosok gigi, atau bahkan saat terkena hembusan angin). Dikenal pula istilah trigger zone, yaitu daerah yang sering menjadi awal bermulanya neuralgia; yang terletak di sekitar daerah sekitar hidung dan mulut.

 

Epidemiologi

Neuralgia trigeminal umumnya hanya menyerang sesisi wajah. Lebih sering ditemukan pada orang berumur 40 tahun ke atas. Semakin tua umur, semakin rentan terkena. Daerah wajah dari pipi ke bawah lebih sering dirasakan nyeri daripada dahi/mata. Kadang dalam beberapa kasus dapat juga ditemukan neuralgia menyerang seluruh cabang saraf trigeminal.

 

Tabel 1. Frekuensi distribusi cabang saraf trigeminal yang terkena neuralgia (Rozen, 2004; dengan modifikasi penulis)

 

Cabang saraf trigeminal

Frekuensi kasus (%)

V1 (ophthalmic)

V2 (maxillar)

V3 (mandibular)

Nyeri

Tidak nyeri

Tidak nyeri

4%

Tidak nyeri

Nyeri

Tidak nyeri

17%

Tidak nyeri

Tidak nyeri

Nyeri

15%

Nyeri

Nyeri

Tidak nyeri

14%

Tidak nyeri

Nyeri

Nyeri

32%

Nyeri

Nyeri

Nyeri

17%

 

 

Keluhan

Nyeri terasa tajam, muncul mendadak, seperti tersengat listrik; dan umumnya dikeluhkan sangat berat oleh pasien. Nyeri dapat berlangsung mulai dari beberapa detik saja sampai sekitar 2 menit; dan dapat berulang setiap hari, setiap minggu, atau beberapa bulan. Biasanya hanya dikeluhkan di satu sisi wajah. Nyeri timbul tepat setelah rangsangan yang dalam keadaan normal tidak mencetuskan nyeri. Misalnya dengan mengusap muka, bercukur, dan sejenisnya. Umumnya ada remisi di antara serangan nyeri. Ada juga kelompok pasien yang mengeluhkan nyeri terus menerus dengan puncak nyeri berbeda-beda dan dirasakan tumpul. Kelompok ini memiliki prognosis penyakit lebih buruk (respons terhadap terapi, termasuk pembedahan, akan lebih rendah).

 

Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis neuralgia trigeminal, IHS (International Headache Society) menetapkan kriteria diagnostik untuk neuralgia trigeminal sebagai berikut:

 

  1. Serangan nyeri paroksismal yang bertahan selama beberapa detik sampai 2 menit, mengenai satu atau lebih daerah persarafan cabang saraf trigeminal.
  2. Nyeri harus memenuhi satu dari dua kriteria berikut:
    1. Intensitas tinggi, tajam, terasa di permukaan, atau seperti ditusuk-tusuk.
    2. Berawal dari trigger zone atau karena sentuhan pemicu.
  3. Pola serangan sama terus.
  4. Tidak ada defisit neurologis.
  5. Tidak ada penyakit terkait lain yang dapat ditemukan.

 

Neuralgia trigeminal hendaknya memenuhi seluruh kriteria tersebut; minimal kriteria 1, 2, dan 3.

 

Pemeriksaan Tambahan

Pemeriksaan tambahan baru diperlukan kalau ada keluhan neuralgia trigeminal pada orang-orang muda; karena biasanya ada penyebab lain yang tersembunyi. Itu pun perannya terbatas untuk eliminasi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan: Rontgen TMJ (temporomandibular joint) dan MRI otak (untuk menyingkirkan tumor otak dan multiple sclerosis).

 

 

Tindakan

Terapi farmakologis yang dikenal efektif untuk neuralgia trigeminal adalah carbamazepine (antikonvulsan). Dosis dimulai dari 2 kali 100 mg, dapat dinaikkan sampai maksimal 3 kali 800 mg. Umumnya pasien sudah berespons dengan dosis 200-800 mg per hari.

Obat alternatif: baclofen, fenitoin, gabapentin, lamotrigine, valproic acid, topiramate, botulinum toxin A, dan dextromethorphan.

 

Terapi pembedahan dibutuhkan jika pasien sudah tidak dapat berespons dengan obat-obatan ataupun pasien yang perlahan-lahan mulai memperlihatkan gejala resistansi dengan terapi obat. Jenis pembedahan yang dilakukan ada beberapa macam. Penyesuaian tindakan dengan kondisi pasien dilakukan secara individual oleh ahli neurologi. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter Anda mengenai masalah tindakan bedah ini.

 

 

Kepustakaan

Krafft RM. Trigeminal Neuralgia. Am Fam Physician 2008; 77 (9): 1291-1296.

Rozen TD. Trigeminal neuralgia and glossopharyngeal neuralgia. Neurol Clin N Am 2004; 22: 185-206.

Siccoli MM, Bassetti CL, Sándor PS. Facial pain: clinical differential diagnosis. Lancet Neurology 2006; 5: 257-67

 

 

hn/mad/pi/010/q3-11

 

 

ADD_YOUR_COMMENT

YOURALIAS:
YOUREMAIL:
Title:
FULLTEXT: